![]() |
| Ritual Adat Dan Penjaga Dunia Lain Di Gunung Fatuleu |
Masyarakat setempat tak pernah melihat mereka sebagai penunggu yang menakutkan. Bagi warga Dawan, para penjaga gaib Fatuleu adalah bagian dari tatanan alam yang harus dihormati, bukan diusir. Hubungan ini terjalin melalui ritual-ritual khusus yang telah menjadi napas keseharian.
Ritual Feset: Memanggil Leluhur di Tengah Kabut
Salah satu ritual paling dalam dan jarang disaksikan orang luar adalah Feset. Ritual ini biasanya dilakukan oleh tetua adat atau masyarakat yang memiliki hajat khusus, seperti meminta hujan di musim kemarau panjang atau memohon keselamatan sebelum masa panen besar.
Prosesinya dimulai sebelum fajar. Sang tetua, dengan pakaian adat lengkap, membawa sesajen berisi nasi jaha (nasi yang dimasak dalam bambu), tuak murni, dan sirih pinang lengkap. Mereka berjalan menuju salah satu batu sakral, seringkali Tuik Neno. Sambil membakar kemenyan, doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Dawan kuno, memanggil roh leluhur dan memohon izin serta berkat.
Asap kemenyan yang menyatu dengan kabut pagi dianggap sebagai medium penyampai pesan ke dunia lain. Yang mereka minta bukan kekayaan, tetapi keseimbangan: agar gunung tetap ramah, air tetap mengalir, dan warga terhindar dari bala.
Ritual Individu: Memohon Kekuatan dan Pengobatan
Selain ritual komunitas, banyak individu yang melakukan pendekatan personal. Di dalam gua meditasi yang terdapat kursi dan meja batu alami, sering ditemukan sisa-sisa sesajen sederhana: selembar daun sirih, sebatang rokok, atau segelas tuak. Ini adalah tanda bahwa seseorang baru saja memohon petunjuk, meminta penyembuhan penyakit yang tak kunjung sembuh, atau mencari ketenangan batin dari kekacauan hidup.
"Gua itu seperti stasiun pengisian," kata seorang pemandu lokal. "Orang datang dengan pikiran berat, duduk di kursi batu itu, berbicara pada keheningan. Mereka percaya kekuatan alam di sini bisa membersihkan pikiran. Banyak yang pulang bukan dengan jawaban ajaib, tetapi dengan kejelasan dalam hati."
Penjaga dari Dunia Nyata: Keturunan Suan-Jalal
Selain penjaga gaib, Fatuleu memiliki penjaga fisik: marga Suan-Jalal, yang diyakini sebagai keturunan langsung dari para penjaga pertama gunung ini. Peran mereka turun-temurun, bukan sebagai dukun, tetapi sebagai pengelola dan penjaga hubungan harmonis antara manusia dan gunung.
Mereka bertugas sebagai:
- Pemandu Spiritual: Memastikan setiap pengunjung yang ingin melakukan ritual memahami tata caranya dan tidak melanggar pantangan.
- Penjaga Tradisi: Menjaga cerita, nama tempat yang sakral, dan makna di balik setiap formasi batu agar tidak hilang atau diselewengkan.
- Penerjemah Tanda Alam: Ketika terjadi hal yang tidak biasa seperti batu jatuh, air keramat keruh, atau hewan bertingkah aneh merekalah yang pertama ditanya untuk menafsirkan pertanda alam tersebut.
Salah satu aturan tak tertulis yang mereka pegang tegung adalah: "Jangan pernah menjual gunung." Artinya, mereka boleh memandu wisatawan dan menerima imbalan yang pantas, tetapi tidak boleh mengkomersialisakan hal-hal yang sakral, seperti menjual "air keramat" atau "batu bertuah". Itu dianggap pengkhianatan terhadap kepercayaan leluhur.
Ketika Ritual Diabaikan: Cerita-cerita Peringatan
Warga kerap bercerita tentang orang-orang luar yang mengabaikan ritual dan pantangan, lalu mengalami musibah. Seperti kisah sekelompok pendaki beberapa tahun silam yang menertawakan larangan untuk tidak berkata kotor. Saat mendaki, salah seorang dari mereka terpeleset dan kakinya terkilir parah di jalur yang relatif landai. Atau cerita tentang seorang pengunjung yang diam-diam mengambil batu cantik untuk koleksi, dan dalam perjalanan pulang mobilnya terus-menerus mengalami masalah meskipun sebelumnya baik-baik saja. Batu itu akhirnya dikembalikan oleh keluarganya dengan meminta maaf melalui tetua adat.
Kisah-kisah ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menegaskan satu prinsip: di Fatuleu, hukum adat dan hukum alam adalah satu. Melanggar yang satu berarti mengganggu keseimbangan yang lain.
Fatuleu Masa Kini: Tempat Wisata atau Tetap Rumah Para Leluhur?
Diresmikannya Fatuleu sebagai objek wisata pada 2015 membawa perubahan besar. Anak tangga beton dibangun, pengunjung berdatangan. Bagi sebagian warga muda, ini adalah berkah ekonomi. Namun, bagi para tetua dan penjaga, ini adalah ujian besar.
Mereka berusaha keras menyeimbangkan dua dunia: membuka pintu untuk kemajuan, tetapi tetap menjaga inti kesakralan. Setiap akhir pekan, para penjaga dari marga Suan-Jalal dengan sabar mengingatkan pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-coret batu, dan bersikap sopan. Ritual-ritual besar seperti Feset mungkin semakin jarang, tetapi ritual kecil sebuah doa singkat, sekapur sirih yang diletakkan tetap hidup.
Gunung Fatuleu berdiri sebagai simbol bahwa di tengah derap modernisasi, masih ada ruang untuk menghormati dunia yang tak kasat mata. Ia mengajarkan bahwa sebelum menjadi turis di suatu tempat, kita harus menjadi tamu yang baik tamu yang tahu aturan rumah yang dikunjunginya, sekalipun pemilik rumahnya tak terlihat oleh mata.
Artikel ini adalah bagian dari liputan khusus tentang misteri Nusantara. Untuk membaca kisah awal tentang misteri Gunung Fatuleu, silakan kunjungi artikel utama kami.

Posting Komentar untuk "Ritual Adat Dan Penjaga Dunia Lain Di Gunung Fatuleu"