Batu Yang Bernapas: Meniti Tepian Dunia Di Gunung Fatuleu

Batu Yang Bernapas: Meniti Tepian Dunia Di Gunung Fatuleu
Gunung Fatuleu

Fighaz Mc - Malam di Kupang terasa tenang, tetapi di timur kota, di bawah langit berbintang, sebuah raksasa batu hitam bernafas dalam damai.

Mereka yang mengenalnya menyebutnya Fatuleu Sang Batu Keramat. Cerita tentangnya bukanlah dongeng pengantar tidur, melainkan bisikan dari leluhur yang tertanam di setiap retakan batu.

Syahdan, menurut mulut ke mulut, Fatuleu bukan sekadar gunung. Ia adalah titian antara dunia kita dengan alam gaib, tempat ketiga batu raksasa Tiuknen, Su’oko, dan Fatule’u berdiri bukan hanya sebagai formasi geologi, tetapi sebagai penjaga tiga alam.

Kabut tebal yang menyelimuti puncaknya di pagi hari dikatakan bukan embun, melainkan nafas dari sesuatu yang lebih tua dari ingatan manusia.

Suara Dari Dalam Batu

Di kaki gunung, desa Nunsaen sunyi. Penduduknya, keturunan marga Suan-Jalal, adalah penjaga. Bagi mereka, gunung itu hidup.

Mereka berkisah tentang suara gemuruh yang kadang datang dari perut gunung, bukan seperti gempa bumi, melainkan seperti suara perahu panjang bergesekan dengan karang suara arwah leluhur yang sedang berlayar di alamnya.

"Mereka yang datang untuk panjat tebing, kadang tidak semuanya pulang dengan cerita yang sama," ujar seorang tetua, matanya menatap jauh ke arah siluet gunung yang gelap.

"Ada yang mendengar bisikan memanggil nama mereka dari celah batu. Ada yang merasa ada yang mengamati dari belakang, padahal tidak ada siapa-siapa." Dia berhenti sejenak. "Gunung ini mengenali niat setiap orang yang mendaki."

Dia melanjutkan dengan suara rendah, "Dan jika batu besar dari Su’oko jatuh ke kolam 'Air Keramat'... itu bukan kebetulan. Itu adalah tanda. Sebelum negeri ini kehilangan pemimpin besarnya, sebelum tanah berguncang hebat, Fatuleu selalu menangis dengan batu."

Tanda-tanda Yang Tak Terbantahkan

Kepercayaan ini bukanlah omong kosong. Banyak yang bersumpah telah menyaksikan pertanda itu:

  • 1965-1967: Longsoran batu besar terdengar bergema di malam hari, bertepatan dengan masa-masa pergolakan politik nasional dan wafatnya Sang Proklamator.
  • 1996: Sebelum keruntuhan Orde Baru dua tahun kemudian, warga melihat retakan aneh muncul di salah satu batu utama, seolah-olah gunung itu merekah.
  • 2004: Beberapa minggu sebelum gempa dan tsunami dahsyat menghantam Aceh, seorang penggembala melaporkan air di kolam keramat mendidih dingin, meski tidak ada mata air panas di sana.

Larangan Di Udara Yang Diam

Setiap anak di desa itu hafal pantangannya. Jangan bersiul di malam hari saat mendaki kamu akan mengundang sesuatu untuk menyertainya.

Jangan mengambil batu atau ranting sebagai oleh-oleh apa yang dibawa pulang bukanlah batu, melainkan 'penumpang gelap'.

Dan yang paling utama: hormati penjaga. Jika kamu bertemu dengan sesosok tua berpakaian sederhana di jalur pendakian yang sepi, tawarkan dia sirih pinang. Bisa jadi dia bukan manusia.

Bahkan Tim Mister Tukul Jalan-Jalan, yang biasa menghadapi hal-hal supranatural, dikabarkan pulang dengan wajah pucat setelah semalam bermalam di sana.

Kamera mereka merekam suara tangisan anak-anak yang tak terlihat, dan EMF (pengukur medan elektromagnetik) mereka bergerak liar di sekitar area tertentu, seolah-olah berkomunikasi dengan sesuatu yang tak kasat mata.

Menghadapi Yang Tak Terlihat

Bagi wisatawan yang nekad ingin merasakan sensasi mendaki gunung ini, pesannya sederhana namun menggetarkan:

"Datanglah dengan hati bersih dan niat yang tulus. Jangan pernah menantang atau meremehkan kepercayaan yang ada. Dan jika kamu merasa ada yang mengikutimu, atau merasa tersesat di jalur yang tadi terlihat jelas, berhentilah. Diam sejenak, dan ucapkan dalam hati: 'Permisi, saya hanya lewat."

Gunung Fatuleu tetap berdiri megah, menyimpan ribuan rahasia di balik dinding batunya yang hitam legam.

Keindahan panoramanya yang memukau dari puncak membentang dari Kota Kupang hingga laut lepas adalah hadiah.

Namun, di balik keindahan itu, selalu ada perasaan bahwa kamu bukanlah satu-satunya yang sedang menikmati pemandangan.

Ada yang lain, yang telah ada di sana jauh lebih lama, yang mungkin juga sedang mengamati kamu.

Apakah semua ini hanya mitos dan sugesti? Ataukah memang ada kebenaran di balik setiap bisikan angin yang berdesir di sela-sela batu Fatuleu? Kebenaran sejati, seperti sosok penjaga tua yang legendaris itu, mungkin hanya akan menampakkan diri kepada mereka yang dipilihnya.

Catatan Editor: Cerita dan kepercayaan dalam artikel ini dikumpulkan dari penuturan warga lokal dan catatan sejarah masyarakat. Setiap pengunjung diharapkan untuk selalu menghormati adat, budaya, dan kepercayaan setempat selama berkunjung.

Ingin mendalami kisah para penjaga gunung Fatuleu dan ritual khusus yang tak banyak diketahui? Simak artikel lanjutan kami yang khusus membahas hal tersebut.

Posting Komentar untuk "Batu Yang Bernapas: Meniti Tepian Dunia Di Gunung Fatuleu"